Gunung Gede Bogor Naik via Jalur Putri Menyiksa, Turun via Jalur Cibodas Menyeramkan di Malam Hari

    Jadi di sini gue to the point aja ya cerita biar kalian tau intinya 😉

                    Di sini gue ingin berbagai cerita pengalaman gue saat berpetualang di Gunung Gede, Bogor bulan desember tahun 2019. Gue bukanlah pendaki profesional atau orang yang hobi naik gunung. Bisa dibilang gue adalah pendaki pemula yang nekat naik ke gunung itu. Awalnya gue diajak oleh temen satu kantor yang hobi mendaki gunung. Sebenarnya gue gak mau karena selain gue gak ada pengalaman dan faktor lain karena saat itu gue harus selesai skripsi. Tapi setelah mikir beberapa kali gue akhirnya memutuskan untuk ikut karena penasaran juga naik gunung seperti apa rasanya.                

                     Gue dan temen-temen sekantor berangkat jumat malam jam 11 an setelah acara gathering kantor akhir tahun. Kita menuju basecamp Gunung Gede dengan sewa bus travel. Perjalanan ke Bogor seperti perjalanan pada umumnya kalau kita ke luar kota naik bus (gue gak mau cerita panjang lebar perjalanannya seperti apa, yang pasti kita kelelahan di dalam bus karena habis acara kantor). Memasuki area basecamp (gue gak tau nama desa nya 😂) jalurnya lumayan padat oleh motor dan mobil yang menuju area basecamp. Sampai kita di sana sekitar jam 3 pagi buta. Gilaaa... dingin banget di sana cuyyy!!! Kalian yang gak pernah tinggal di desa pasti akan kedinginan (so, jaket itu pakaian yang penting saat naik gunung). Bus travel sudah mendarat sempurna pas di depan basecamp, gue dan anak-anak lainnya nurunin barang bawaan dari bus. Tapi karena kita ngejar waktu biar gak malam sampai Alun-Alun Suryakencana maka kita memutuskan untuk tidak istirahat di basecamp. Jadi kita harus jalan jam 5 pagi. Habis turun dari bus dalam keadaan ngantuk berat (karena gue gak bisa tidur di dalam bus) kita langsung makan di warung dan solat terus beres-beres barang bawaan ke dalam tas backpacker (yang pasti bawaan paling berat yang cowok). Sekitar jam 5 lewat kita langsung cus nanjak. Pendakian kita lewat Jalur Putri. Buat para pemula seperti gue naik gunung bawa tas backpacker yang dibilang gak seberapa beratnya dibanding anak-anak cowok udah buat gue sesak napas haha karena pengalaman gue sendiri saat naik yang buat gue gak kuat adalah bawa tas backpacker nya. 
                    Sepanjang pendakian via Jalur Putri kalian gak usah takut kelaparan dan kehausan karena di setiap pos ada warung (yang pasti harganya lebih mahal) tapi bagaimana pun kalian juga wajib bawa makanan sendiri apalagi kalau mau bermalam di alun-alun. Pendakian via Jalur Putri terus nanjak tanpa ampun ampe napas gue engap dan kelelahan. Tapi tenang pas udah mendekati Alun-Alun Suryakencana jalurnya mulai melandai dan saat tiba di Alun-Alun Suryakencana rasa lelah kalian akan terbayar dengan keindahan padang savana itu. Pokoknya indah banget dehh di sana sayangnya, pas gue ke sana hujan tapi tetep indah apalagi kalau cerah, bunga-bunga edelweis-nya yang bermekaran makin berasa kita kek di negeri dongeng. Dari nanjak jam 5 an pagi sampai alun-alun sekitar jam 4 sore (hampir 12 jam 😂 buat yang udah sering naik gunung mungkin gak akan selama itu karena gue dan yang lainnya yang pemula bolak-balik istirahat). Pokoknya selama bermalam di alun-alun kita diguyur hujan (untung sleeping bag gue tebel jadi nyenyak tidur).


(Photo taken by my self with Fujifilm X-A3)

                    Pagi nya setelah masak buat sarapan kita langsung beberes tenda dan sampah-sampah bekas makanan di bungkus untuk di bawa pulang (ingat! jangan kalian meninggalkan sampah makanan di gunung atau di alun-alun nya ya!!!) Kita langsung naik lagi menuju puncak untuk summit. Untuk naik ke puncak gak butuh waktu sampai 12 jam karena gak begitu jauh dari Alun-Alun Suryakencana paling cuma 2-3 jam an lah... Pas sampai puncak sayangnya cuaca mendung dan berkabut jadi pemandangan gak begitu tampak indah tapi buat gue sampai di Alun-Alun Suryakencana sudah cukup menyenangkan. Nahh, di puncak juga ada yang dagang jadi jangan takut kehabisan makanan yang terpenting kalian naik gunung bawa uang tunai juga ya... Setelah gue dan temen-temen foto-foto di puncak kita memutuskan untuk segera turun karena waktu sudah menunjukkan jam 1 siang biar kita bisa balik Jakarta sore. Pendaki yang sering naik gunung bilang kalau turunya mah cepet gak ampe 12 jam paling 4 atau 5 jam an gituuu... Ya udah akhirnya kita turun sekitar jam 1 siang lebih dengan cuaca berkabut dan hujan rintik-rintik sangat syahdu. Keadaan sekitar berkabut, jalan yang licin dan berlumut jadi harus waspada.



(Photo taken by my self with Fujifilm X-A3)

                    Dan satu hal yang terpenting saat kalian naik gunung tutur kata dan sikap itu harus dijaga lhoo jangan kalian samakan seperti di tempat publik di kota. Maksudnya tutur kata dan sikap kita saat naik gunung jangan banyak becanda atau ngomong latah. Ternyata ada pengaruhnya. Karena gue dan temen-temen kantor sering becanda (di sini beruntung karena temen kantor yang namanya Valdi gak ikut haha dia orangnya demen banget becanda 😆) sepanjang perjalanan lelah jadi diselingi dengan candaan yang gak kita sadar ternyata berimbas dengan perjalanan pulang kita via Cibodas. Baru seperempat perjalanan turun, temen satu kantor yang dia adalah manajer gue sendiri kepleset (namanya mbak Esa) dan dengkulnya nyium batu gunung, gilaaa....gimana rasanya tuhhh kebentur batu gunung yang warnanya hitam legam. Manajer gue ini ya dibilang lumayan gemuk (tapi gak gemuk-gemuk amat juga) dan gue sempat berpikir dia kepleset karena menumpu beban badannya atau mungkin udah takdir mau jatuh karena emang jalur turunnya sama ekstrimnya dengan jalur naik via Putri ditambah hujan. Bisa kebayang kan masih seperempat perjalanan kondisi jalur berlumut dan licin. Ya saat itu kita panik lah ya, manajer gue juga merasakan kesakitan udah gitu satunya lagi si mbak Eka gak enak badan dari dia awal naik gunung. Jadi kedua orang itu adalah ibu rumah tangga cuma bedanya mbak Esa adalah pendaki pemula dan mbak Eka keseringan naik gunung, mungkin itu yang membuat mbak Eka gak enak badan saat mendaki gunung karena udah muak bolak-balik naik gunung 😁. 

                Jadi setelah berbagai macam pertimbangan dan keputusan mbak Esa juga, kita memaksa malanjutkan perjalanan untuk turun sesuai rencana biar sore udah sampai bawah. Dan ternyata semua rencana itu tidak sesuai rencana yang semestinya. Untungnya ada Ehsan, cowok yang baik hati mau nuntun mbak Esa wkwkwk... Jadi sepanjang perjalanan mbak Esa dituntun Ehsan dan rencananya mbak Esa ini sampai di pos berapa ya gue lupa pokoknya setelah Kandang Badak dia mau di gendong oleh Ranger gunung tapi mbak Esa gak mau 😁. Hingga akhirnnya sore menjelang maghrib kita masih berada di Kandang Badak dan perjalanan masih sangat jauh. Udah gitu gue gak bawa head lamp jadi gue bergantung dengan head lamp yang lainnya. Setelah Kandang Badak keadaan makin gelap gulita cahaya head lamp ternyata terangnya gak seberapa (mending bawa lampu storm atau senter sih). Menjelang malam saat turun kita berpasang-pasangan saling menjaga satu sama lain dan saat itu gue jalan bareng mbak Eka yang lagi sakit dan gue gandeng lah tangannya. Gue takut dia jatuh kan. Posisi mbak Eka ada di sebelah kiri. Pas di suatu jalur yang sebelah kirinya adalah jurang gue gak tau kenapa mbak Eka kok jalannya makin ke kiri jadi gue yang nuntun itu kek dituntun mbak Eka mengikuti gerak tubuhnya dia gitu dan pas itu dia sempet bilang "lewat kiri nis". Gue agak bingung sih saat itu karena yang lainnya jalan lurus kenapa mbak Eka bilang ke kiri. Trus gue bilang "yang lainnya kan pada jalan lurus, mbak". Gue liat mbak Eka seperti orang linglung malam itu. Jarak gue dan anak yang lainnya agak jauh bisa dibilang gue dan mbak Eka agak memisah dengan gerombolan. Gue  pegang terus tangannya mbak Eka sepanjang perjalanan malam itu hingga sampai di pos 4 kalau gak salah gue lupa sihhh 😁 gue melepas mbak Eka dan perjalanan selanjutnya gue jalan bareng mbak Esa dan Ehsan. Gak nyangka kita jalan untuk turun itu rasanya lebih lama dari naik, padahal kata mereka yang pernah ke gunung gede turun paling cuma 4 atau 5 jam an. Nahh ini kita jam 11 malam masih di gunung. Udah gitu anak-anak cowok yang lainnya ngerasa tas nya berat terutama tas nya Bayu miring-miring mulu kek ada yang mebebani gitu....


                    Nahhh kembali ke si mbak Eka, si mbak Eka ini sekarang jalannya ama pak Yudhis. Gue di belakang ama Ehsan dan mbak Esa. Awalnya kita jalan biasa-biasa aja. Pas sampai di pos 2 kalau gak salah, di situ mbak Eka duduk ama orang yang gak gue kenal. Dengan pede nya gue dan mbak Esa duduk di samping mbak Eka. Tiba-tiba orang yang tak dikenal itu ngeledekin mbak Eka dengan pertanyaan-pertanyaan yang bikin gue kesel sebenarnya sihh. Orang tak dikenal itu ternyata kuncen nya Gunung Gede. Tiba-tiba mbak Eka teriak-teriak. Tau mbak Eka teriak-teriak begitu mbak Esa langsung beranjak dari sisi mbak Eka, gue malah gak paham saat itu. Karena gue masih di dekat mbak Eka, mbak Esa pun manggil gue agar menjauh dari mbak Eka. Wakakak.... ternyata mba Eka teriak-teriak begitu karena kerasukan kuntilanak! Gue langsung merapat ke barisan aman di samping mbak Esa dan pak Yudhis haha... Malam itu sekitar jam 12 malam, gilaaa gak jam segitu masih di gunung. Karena makin malam, kita melanjutkan perjalanan biar cepat sampai bawah karena bus travel sudah menunggu dari jam 7 malam haha. Mbak Eka dan kuncen Gunung Gede jalan duluan, mereka jalannya cepet banget. Gue dan yang lainnya terus jalan hingga sampai di jembatan panjang yang jembatannya bolong-bolong di situ gue bener-bener diuji nyalinya. Udah gue gak pake head lamp terus melintasi jembatan panjang yang bolong-bolong takut banget gue kejeblos 😱 perjalanan melewati jembatan panjang itu udah kek ikutan game benteng takeshi. Dan alhammdulillah gue selamat melewati jembatan yang menyeramkan itu. Tapi rintangan masih belum selesai. Saat turun dari Gunung Gede setelah melewati jembatan kita harus melewati jalur dimana jalur itu sering dilintasi oleh babi hutan. Mbak Esa udah ketakutan tuh dia pegang tangan gue erat banget. Temen kita di garda depan berhenti mendadak untuk memastikan bahwa di depan sana tidak ada babi yang sedang kelaparan karena babi hutan suka dengan sampah. Nahh di sini Ehsan jadi was-was pas tau babi suka ngobrak-abrik sampah karena dia yang bawa sampah tapi yang lebih was-was lagi mbak Esa dia takut babi muncul terus ngejar kita hahaha sedangkan kaki nya mbak Esa buat gerak aja kaku (kebayang gak sih kalau babi ngejar kita malam itu). Sepanjang perjalanan turun melintasi jalur babi hutan gue, mbak Esa dan Ehsan baca ayat kursi (karena pas itu kita jalan bertiga, gue dan Ehsan nuntun mbak Esa). Entah kenapa tiba-tiba gue merasa ngantuk berat dan tiba-tiba lemas. Tau gue lemas mbak Esa langsung nyadarin gue untuk terus baca ayat kursi. Tapi gue makin lemas dan ngantuk berat, mata gue rasanya udah gak sanggup melek. Gilaaa...bener-bener lemas banget saat itu kek abis minum obat dokter yang bikin ngantuk berat. Gue gak paham dengan kejadian yang menimpa gue saat itu pokoknya mbak Esa terus nyuruh gue baca ayat kursi dan jangan bengong, dia terus ngajak gue ngobrol. Dan tiba-tiba gue merasa mual dan muntah tapi muntahnya gak keluar apa-apa. Intinya gue mual banget, aneh rasanya. Gue terus baca ayat kursi sambil nyiumin minyak kayu putih. Gak lama kemudian rasa mual itu hilang hingga kita akhirnya sampai di mana bus travel menanti kita terlalu lama. Di situ kita bertemu lagi dengan mbak Eka dengan keadaan yang masih lemas (pokoknya yang ada dalam pikiran gue saat itu sampe di dalam bus pengen tidur mana kaki berat banget rasanya). Tau gak sihh, ternyata gue mual itu katanya gue hampir kerasukan kuntilanak wehhh 😱 kata si Faisal gara-garanya pas setelah lewat Kandang Badak gue nyeletuk "nanti kalau gue ilang gimana" nahh ternyata karena perkataan itu gue hampir kerasukan kuntilanak. Ya Allah, untung gue hafal ayat kursi dan alhamdulillah gue selamat sampai bawah. Dihitung-hitung, kita turun itu kurang lebih 12 jam, jadi naik 12 jam turun 12 jam 😂. Kata pak Yudhis "baru kali ini gue naik 12 jam turun 12 jam" haha. Kocak deh pokoknya perjalanan kita di Gunung Gede. Ini pengalaman pertama gue naik gunung dan akhirnya gue merasakan naik gunung itu seperti apa. Sangat menyenangkan tapi juga meyeramkan.... Intinya seperti itu cerita pengalaman gue naik Gunung Gede. Pesan yang ingin gue sampaikan adalah jika kalian naik gunung apa pun itu kalian harus jaga tutur kata dan sikap dan yang terpenting jangan meninggalkan sampah di gunung. Bawalah sampah makanan kalian kalau perlu sampai ke tong sampah rumah....

                    

Comments

Post a Comment